penyebab enuresis

PENYEBAB ENURESIS
Menurut Dr Taralan penyebab enuresis anak sendiri sangat beragam, yaitu:
• Peningkatan ekskresi sodium pada kasus-kasus enuresis nokturnal, sebagai akibat berkurangnya reabsorbsi ion pada pars asendens Anza Henle yang menyebabkan peningkatan diuresis dan ekskresi zat terlarut.
• Peningkatan up take kalsium dan kalsiuria yang ditemukan pada sebagian kecil kasus enuresis nokturnal.
• Sumbatan saluran napas atau pada sleep apnea syndrome.
• Terjadinya peningkatan masukan air (minum terlalu banyak) sebelum tidur.
• Faktor heraditer. Jika ditemukan riwayat enuresis pada salah satu orangtua, maka risiko kemungkinan timbulnya enuresis pada anak sekitar 44 persen.
• Tidur terlalu dalam dan sulit bangun.
• Ritme harian kadar Arginin vasopressin (AVP) plasma.
Enuresis sekunder biasanya terjadi ketika anak tiba-tiba mengalami stress kejiwaan, seperti pelecehan seksual, kematian dalam keluarga, kepindahan, mendapat adik baru, perceraian orang tua atau masalah psikis lainnya. Selain itu, kondisi fisik yang terganggu-seperti adanya infeksi saluran kencing, kencing manis, susah buang air besar, dan alergi-juga dapat menyebabkan nuresis sekunder. Enuresis primer lebih banyak terjadi dari pada enuresis sekunder. Para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab utama enuresis primer. Beberapa faktor diduga sebagai ‘biang kerok’nya. Keterlambatan matangnya fungsi susunan syaraf pusat (SSP) disebut-sebut sebagai penyebab utama enuresis primer. Faktor genetik, gangguan tidur, kurangnya kadar antidiuretic hormone (ADH) dalam tubuh, ataupun kelainan anatomi juga diduga turut andil sebagai penyebabnya.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa enuresis primer bisa terjadi akibat faktor keturunan. Bila kedua orang tua mempunyai riwayat enuresis, maka 77% kemungkinan anak mereka akan mengalami hal yang sama. Jika hanya salah satu orang tua yang pernah mengalami enuresis, maka terdapat sekira 44% kemungkinan anak akan terpengaruh. Tetapi, kalau tidak ada satu pun orang tua yang pernah mengalami enuresis, maka kemungkinan anak terkena enuresis hanya 15% saja.
Enuresis primer yang disebabkan gangguan tidur biasanya terjadi lantaran penderita mengalami tidur yang sangat dalam (deep sleep). Pola tidur penderita pada umumnya normal. Tapi akibat tidur yang sangat dalam tersebut, mereka tidak bisa terbangun ketika ingin buang air kencing. Kelainan anatomi, seperti kecilnya ukuran kandung kencing, biasanya jarang ditemukan pada penderita enuresis primer. Kalaupun ada, umumnya disertai dengan gejala-gejala yang juga tampak pada siang hari.
Mengenai antidiuretic hormone (ADH), hormon ini akan menyebabkan tubuh seseorang memproduksi sedikit air kencing pada malam hari. Namun pada penderita enuresis primer, tubuhnya tidak dapat membuat ADH dalam jumlah yang mencukupi. Akibatnya, ketika sedang tidur, tubuh mereka menghasilkan air kencing yang jumlahnya terlalu banyak. Karena itulah anak menjadi ngompol.

Sumber:
http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/Cybermed/detail.aspx?x=Health+News&y=Cybermed|0|0|5|184
http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg204804.html

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s